Dinas Kehutanan Papua Barat : Kegiatan Seminar Nasional Sistem Pengelolaan Hutan Lestari Dengan Tema "Sistem Pengelolaan Hutan Yang Tepat Menjamin Kelestarian Hutan" Di Provinsi Papua Barat Pada Tanggal 2 - 3 Desember 2013 di Hotel Valdos Manokwari

Potensi Investasi

Login





Designed by: @dishut Provinsi Papua Barat

Makalah KKLD
Kamis, 10 Januari 2013 11:13

POTENSI SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT KAWASAN KONSERVASI LAUT DAERAH (KKLD) ABUN,

KABUPATEN SORONG

 COMMUNITIES SOCIAL ECONOMIC POTENTIAL 0F MARINE CONSERVATION ZONE REGIONAL ABUN, REGENCY OF SORONG

 0leh/By

Max J. Tokede

Abstrak

 

Tujuan survei adalah untuk mengetahui data  potensi sosial ekonomi masyarakat di delapan kampung dalam kawasan  sekaligus  mensosialisasikan manfaat penetapan dan pengelolaan KKLD bagi kesejahteraan masyarakat  dan  kelestarian sumberdaya alam hayati di dalam kawasan.

Hasil penelitian menunjukkan  mata pencaharian utama adalah petani peladang dan peramu, sedangkan nelayan sebagai mata pencaharian sampingan. Sumber  pendapatan tunai rumah tangga andalan adalah dari komoditi hasil pertanian seperti kakao, kopra dan pisang. Pemanfaatan penerimaan tunai keluarga sebagian besar (60%) diperuntukan bagi pemenuhan kebutuhan pokok.  Selebihnya untuk modal  kegiatan, biaya sekolah dan biaya  pengobatan. Untuk meningkatkan  produktivitas tanaman kakao, kelapa dan perikanan tangkap  dalam rangka meningkatkan penerimaan tunai masyarakat, maka instansi teknis terkait perlu melalukan pembinaan dan pendampingan secara intensif.   Diperlukan  pembinaan dan pendampingan pengelolaan  keuangan bagi masyarakat agar  alokasi penerimaan tunai untuk pendidikan dan kesehatan dapat ditingkatkan.

 

Kata Kunci :  Potensi, Sosial Ekonomi, Masyarakat, Konservasi Laut Daerah

 

Abstract

The purpose of the survey is to determine the  potential for socio-economic communities in eight villages in the region as well as socializing benefits KKLD for the establishment and management of community welfare and conservation of natural resources in the region.

 The results showed the main livelihood is farming the farmers and gatherers, while the livelihood of fishermen as a byproduct. Source of household cash income is the mainstay of agricultural commodities like cocoa, copra and bananas. Utilization of the majority of families receiving cash (60%) intended for the fulfillment of basic needs. The rest for capital activities, school fees and medical expenses. To increase the productivity of cocoa, coconut and fisheries in order to increase public acceptance of cash, then the relevant technical agencies need to be put through intensive coaching and mentoring. Necessary guidance and assistance of financial management for the public to the allocation of cash receipts for education and health can be improved.

______________________________________________

Key words :Potential, Social Economy, Communities, Marine Conservation Zone

                  

 

 

PENDAHULUAN

 

Kawasan  Konservasi Laut Daerah (KKLD) Abun yang ditetapkan dengan Surat Keputusan Bupati Kabupaten Sorong, Nomor : 142 tahun 2005, merupakan satu-satunya kawasan KKLD yang ada di Pulau Papua. Penetapan kawasan ini didasarkan pada  keunikan  biofisik kawasan dengan tingkat  keanekaragaman hayati yang sangat tinggi. Salah satu karakteristik unik dalam wilayah ini adalah  habitat peneluran penyu belimbing (Dermochelys coriaceae). Kawasan Abun diketahui sebagai habitat peneluran penyu belimbing dengan tingkat populasi betina bertelur terbesar dan tingkat keterancaman tertinggi di dunia.  

PEMDA Kabupaten Sorong telah membentuk  Tim Kolaborasi KKLD Abun yang bertugas untuk melakukan inisiasi berbagai kegiatan guna mendukung proses perencanaan  pengelolaan ke depan yang lebih akomodatif.  Tim menyadari   dukungan data yang memadai terutama potensi  sosial ekonomi masyarakat yang tinggal  di sekitar kawasan sangat dibutuhkan.   

Keterbatasan data menjadi kendala bagi Tim Kolaborasi untuk menyusun Rencana Pengelolaan. Karena itu dibutuhkan kegiatan survei lapangan untuk menghimpun data yang dibutuhkan dengan fokus pada data potensi sosial ekonomi masyarakat di delapan kampung dalam kawasan.

Tujuan survei adalah untuk mengumpulkan data potensi sosial ekonomi masyarakat di delapan kampung dalam kawasan  sekaligus  mensosialisasikan manfaat penetapan dan pengelolaan KKLD bagi kesejahteraan masyarakat dan kelestarian sumberadaya alam hayati dalam kawasan.

 

METODOLOGI PENELITIAN

 

Metode survei lapangan yang digunakan adalah metode partisipatori yang didahului dengan kegiatan pelatihan bagi Tim survei  lapangan. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik wawancara dan observasi langsung. Teknik wawancara adalah wawancara terstruktur dengan panduan kuisioner. Observasi langsung dilakukan untuk triangulasi data hasil dari wawancara baik wawancara kelompok maupun wawancara individu.   

Jumlah individu rensponden 132 orang terdiri atas 124 responden acak dan 24 responden kunci. Persebaran jumlah responden setiap kampung bervariasi secara proporsional menurut jumlah Kepala Keluarga (KK) yang ada disetiap kampung sasaran.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

 Fisiografi  Kawasan

 

 Luas KKLD Abun   169.158 ha terdiri atas 69.372 (41 %) daratan dan 99.786  ha (59%) perairan laut. Secara  astronomis KKLD  Abun terletak pada posisi  132.o14”-132o98” BB dan -0o.32- -0o .58” dengan batas wilayah  di sebelah Utara berbatasan dengan Samudera Pasifik, di sebelah Selatan dengan Distrik Yembun, Fef dan Miyah; di sebelah Timur berbatasan distrik Saukorem dan Amberbaken dan di sebelah Barat dengan distrik Moraid (Peta 1.)  

Fisiografi kawasan sebagian besar (63, 13 %) bergunung terutama pada sisi bagian Utara. Topografi yang berat ini merupakan bagian dari jajaran pegunungan Tambrau yang berada di Tengah Utara kawasan. Wilayah daratan KKLD Abun, merupakan kawasan pesisir yang memiliki lereng  perbukitan dan pegunungan.  Wilayah landai dan datar yang relatif luas berada di ujung sebelah Barat, bagian Tengah  dan ujung Timur  kawasan. (Peta 2.) Di sebelah Timur kawasan  merupakan muara  sungai Kwoor dan di Barat muara sungai Sumguamnos. Di bagian Tengah kawasan mengalir dua sungai bersar, yaitu sungai Warmon dan Waskayu. Beberapa sungai kecil juga terdapat di wilayah ini seperti Kali Werbes, Kali Warmanggem, Kali Sungwam, Kali Weyaaf, Kali Wefari,  Kali Pamali dan Kali Werbit.  Semua kali ini berada dalam wilayah KKLD Abun dan bermuara ke pesisir pantai.  Terdapatnya sungai-sungai besar dan kecil tersebut, apabila terjadi pembukaan areal di wilayah daratan akan memberikan konsekwensi terhadap pendangkalan perairan pantai.  Jika  kejadian ini tidak terkendali maka akan merusak terumbu karang  dan  habitat peneluran penyu  di wilayah KKLD Abun.

Wilayah daratan KKLD Abun  yang masih tertutup hutan (primer dan sekunder)  menyebar di daerah perbukitan dan pegunungan serta pesisir pantai berbukit karang.  Luasan hutan primer dan sekunder tersebut mencakup 55 % dari luas daratan KKLD Abun.  Kawasan hutan primer dan hutan sekunder  yang berada pada daerah perbukitan dan pegunungan perlu dipertahankan guna menunjang fungsi peruntukan kawasan.  Kebutuhan lahan untuk kepentingan pembangunan dan kegiatan ekonomi masyarakat perlu ditetapkan dengan mempertimbangkan fungsi konservasi kawasan.

Pusat-pusat pemukiman dalam KKLD Abun  hampir seluruhnya menyebar di pesisir pantai, kecuali Kampung Werbes di distrik Sausapor agak ke pedalaman.  Ibu kota distrik berada di Sausapor terletak di ujung paling Barat dan ibu kota distrik Abun merada di Weibem di ujung paling Timur kawasan.  Persebaran pusat-pusat pemukiman demikian mengindikasikan bahwa masyarakat di kawasan ini berinteraksi dengan hutan dan laut. Pola interaksi yang terjadi untuk masyarakat  pesisir pantai berbentuk bulan sabit. 

KKLD Abun memiliki aksesibilitas wilayah relatif mudah  dijangkau melalui laut dari Ibu Kota Kabupaten Sorong dibanding melalui darat dan udara.   Sarana transportasi laut yang melayani mobilitas penduduk dari Ibu Kota Kabupaten ke pusat-pusat pemukiman dalam kawasan  adalah   Kapal Perintis, motor tempel (Long Boat) dan Speedboat.  Pelabuhan laut terdapat di kedua ibu kota distrik, masing-masing di Sausapor dan Weibem yang disinggahi oleh kapal perintis.  Satu-satunya kapal perintis yang melayani kawasan ini secara rutin adalah KM Meranti.   Kendala utama yang dihadapi oleh masyarakat untuk menjangkau kawasan ini adalah bila musim ombak datang.  Mobilitas penduduk melalui darat  lebih sulit, karena hanya terdapat jalan setapak yang menghubungkan antar kampung.   

KM Meranti  menyinggahi semua kampung di wilayah pesisir kawasan KKLD kecuali Warmandi dengan  jadwal 4 – 6  hari sekali bergantung pada arah pelayaran.  Bila kapal  dari  Manokwari ke Sorong  4-5 hari dan bila kapal  dari Sorong ke Manokwari 6 – 7 hari sekali.  Adanya kapal perintis ini sedikit menolong masyarakat melakukan mobilisasi antar kampung, ke pusat distrik  dalam kawasan  maupun ke  pusat kabupaten Sorong dan Manokwari

               Sarana transportasi utama masyarakat antar kampung

Sosial Masyarakat

Masyarakat dalam kawasan ini didominasi oleh suku Abun yang merupakan salah satu suku asli di kepala burung Papua.  Suku lain adalah suku Biak, Yapen dan Timor.  Suku Biak dan Yapen masuk dalam wilayah Abun sejak abat ke 14 dan menetap berinteraksi dengan suku Abun. Penduduk lokal Papua mencapai 97-98% dan penduduk luar Papua hanya 2-3%. Kepadatan penduduk di wilayah  ini tergolong jarang  hanya sekitar 28 jiwa per 10 km2. Jumlah anggota keluarga rata-rata 4-5 jiwa/KK. Mata pencaharian utama penduduk adalah petani, sedangkan meramu (berburu) dan mencari ikan (nelayan) sebagai mata pencaharian sampingan. Hampir seluruh penduduk (>90 %) menggantungkan hidupnya dari bertani lahan kering dan meramu hasil hutan dan laut.  Perbandingan antara pria dan Wanita adalah 12 : 8 (pria lebih banyak dari wanita).  Keadaan ini berpengaruh terhadap interaksi sosial dan mobilitas penduduk.  Penduduk yang tergolong usia produktif di setiap kampung mencapai > 50 % dengan angka ketergantungan penduduk 1,2–1,8. Artinya satu orang pekerja menanggung 1–2 orang yang tidak bekerja.   

Tingkat pendidikan penduduk di wilayah  KKLD Abun umumnya relatif memadai.  Rata-rata penduduk yang telah mengenyam pendidikan Sekolah Dasar sampai sekolah menengah pertama mencapai lebih dari 60%- 80% kecuali untuk Kampung  Hopmare dan Kwoor distrik Sausapor penduduk yang  belum mengenyam pendidikan formal atau  tidak bersekolah mencapai masing-masing 95% dan 50%. Fakta ini sangat memprihatinkan pada hal kedua kampung ini relatif dekat dengan ibu kota Distrik dan Ibu kota Kabupaten dibanding kampung lainnya. Penduduk yang tamat pendidikan  SLTP kurang dari 20% dan berpendidikan SLTA maupun  Perguruan Tinggi (PT) kurang dari 10%. Artinya bahwa masyarakat di wilayah ini belum memiliki tingkat kesadaran yang memadai tentang pendidikan. Pendidikan non formal seperti pelatihan dan kursus keterampilan seluruh masyarakat belum perna mengikutinya.

Interaksi sosial masyarakat umumnya terjalin harmonis antar sesama warga masyarakat, hal ini terlihat dari kegiatan-kegiatan yang dilakukan di kampung.  Kegiatan-kegiatan kemasyarakatan dilakukan secara gotong royong terutama dalam perayaan hari-hari besar negara maupun hari-hari gerejani. Wujud dari interaksi yang harmonis ini dan jiwa saling tolong menolong tampak pada kegiatan kerja bakti, pesta adat, perayaan kampung dan kegiatan olah raga.  Semua kegiatan-kegiatan tersebut  dilakukan atas swadaya masyarakat. 

Interaksi sosial juga diwujudkan melalui perkawinan  antar masyarakat dalam satu suku atau antar suku. Adat perkawinan yang umum diberlakukan adalah menurut Adat Suku Abun. Namun,akibat telah masuknya injil di wilayah ini, maka proses legalisasi perkawinan selain dilakukan secara adat, juga dilakukan secara gereja menurut ajaran Kristen Protestan.  Sekalipun demikian, mas kawin tetap masih dipertahankan dan harus diberikan pihak laki-laki dan pihak perempuan.

 

Sosial Ekonomi Masyarakat

Masyarakat  di empat kampung di distrik Sausapor 82% bermata pencaharian utama sebagai petani, sedangkan di distrik Abun 90% bermata pencaharian utama petani. Hanya di kampung Werbes, terdapat 20 KK (20%) masyarakat yang bermatapencaharian utama sebagai nelayan.

Pola penggunaan lahanpun tertentu sesuai dengan tujuan penggunaannya..  Umumnya masyarakat memiliki lokasi tertentu untuk berkebun, berburu/meramu dan mencari ikan pada lahan adat milik marganya. Penggunaan lahan pun ditentukan berdasarkan kelompok marga, dan setiap kelompok marga memiliki lahan usaha sendiri..  Pemanfaatan lahan untuk berbagai kegiatan usaha tersebut dilakukan pada lahan adat  yang telah  menjadi bagiannya. Bagi keluarga pendatang, dapat mengusahakan lahan marga tertentu atas  restu marga pemilik lahan bersangkutan.

Pola usaha tani yang diterapkan  oleh masyarakat di KKLD Abun umumnya pola usahatani campuran. Dalam sebidang lahan kebun ditanam berbagai jenis tanaman bahan makanan secara tumpangsari dengan pola tanam didak beraturan. Tidak ada pemisahan yang jelas bidang tanaman komoditas tertentu.  Terkadang pada lahan yang sama juga ditanami berbagai jenis tanaman buah-buahan dan tanaman perkebunan.  Berdasarkan pola usahatani demikian, maka dapat disimpulkan bahwa masyarakat di wilayah ini masih menerapkan sistem perladangan berpindah. Corak usahatanipun adalah subsisten.  Artinya bahwa usaha tani yang dilakukan adalah usahatani bahan makanan pokok, seperti keladi, singkong, ubi jalar, jagung, tebu, pisang, bayam, sayur lilin, kacang tanahkacang  panjang.

Rata-rata satu kebun ditanam sedikitnya lima jenis tanaman bahan makanan dan sayuran. Komoditas lain yang juga diusahakan adalah tanaman perkebunan seperti kakao dan kelapa. Kebun kakao ini terkadang satu lokasi dengan ladang bahan makanan, terkadang juga terpisah. Tanaman kakao umumnya di tanam pada lahan bekas tanaman bahan makan yang sudah ditinggalkan. Tanaman kelapa umumnya berada di dusun atau di lahan pekarangan dan merupakan tanaman warisan dari orang tua.  Ketiga komoditas ini umumnya  merupakan sumber penerimaan tunai keluarga di wilayah ini disamping dari hasil  meramu (menangkap ikan dan berburu).

           Kebun baru masyarakat                           Tanaman keladi yang banyak  ditanam

Khusus untuk tanaman kakao da kelapa, pola pertanamannya sedikit teratur dengan jarak tanam tertentu. Untuk tanaman kakao jarak tanam adalah 3 x 4 m2 sedangkan tanaman kelapa menggunakan jarak tanam 8 x 8 m2.  Tanaman kakao diperkenalkan oleh Dinas Perkebunan pada tahun 1993 di kampung Werur dengan cara membagikan bibit kepada masyarakat.  Selanjutnya tanaman kakao menjadi komoditi unggulan masyarakat di wilayah KKLD Abun sebagai sumber pendapatan tunai keluarga selain kelapa (Kelapa Biji dan Kopra) dan pisang.

Penanganan pasca panen untuk tanaman kakao dan kelapa (kopra)  masih dilakukan secara sederhana.  Panenanpun tidak dilakukan secara intensif.  Masyarakat umumnya memanen tanaman kakao dan kelapa jika ada keperluan uang tunai dan bila ada permintaan pedagang pengumpul dari sorong.  Untuk itu usahatani kedua kelompok komoditas ini perlu mendapat pembinaan intensif dari instansi teknis guna meningkatkan produktivitas kebun maupun kulitas hasilnya sehingga dapat menjadi sumber pendapatan tunai keluarga yang dapat diandalkan.

 

 
 

 

Permasalahan yang dihadapi masyarakat  dalam pengusahakan tanaman kakao adalah intensitas serangan Penggerek Buah Kakao (PBK) yang semakin dirasakan merugikan dan telah menyebar di seluruh kebun kakao masyarakat. Tanaman kakao yang buahnya terserang PBK sangat menurun produktivitasnya.  Salah satu penyebab utamanya adalah sanitasi kebun yang buruk.

 

Usaha penangkapan ikan masih merupakan mata pencaharian sampingan dan dilakukan hanya sekedar untuk memenuhi kebutuhan keluarga.  Alat tangkap yang digunakanpun masih sangat sederhana yaitu menggunakan kail dan alat  pengangkut perahu dayung. Penangkapan ikan dan biota lain kadang dilakukan dengan menyelam menggunakan alat pemanah ikan.

Kegiatan meramu yang masih dilakukan oleh mayarakat di wilayah ini adalah menokok sagu di dusun, berburu berbagai binatang buruan, serta pengambilan hasil hutan kayu dan bukan kayu untuk dikonsumsi sendiri ataupun untuk di jual.  Kegiatan meramu inipun tidak dilakukan secara intensif dan frekwensinya pun tidak teratur  bergantung pada kebutuhan.                        

Sumber pendapatan tunai keluarga tersesar berasal dari penjualan hasil pertanian seperti biji kakao, kopra dan pisang.  Sumber lainnya adalah hasil berburu, memancing dan  upah sebagai tenaga pengawas kawasan konservasi.  Rata-rata penerimaan tunai keluarga pada ke delapan kampung adalah Rp 910.000/bulan.

Pemanfaatan penerimaan tunai keluarga masyarakat yang bermukim di delapan kampung KKLD Abun masih difokuskan pada pemenuhan kebutuhan subsisten, terutama kebutuhan dasar sehari-hari yang tidak diperoleh dari usaha tani, meramu atau usaha lainnya.  Setiap rumah tangga rata-rata mengeluarkan uang tunai sebesar Rp.604.000,-/bulan.

Bila dibandingkan dengan rata-rata penerimaan tunai rumah tangga (Rp.910.625,-/bulan), maka rata-rata masyarakat di wilayah ini memanfaatkan sebesar 66 % dari penerimaan tunai keluarga sebesar.  Tampaknya masyarakat masih memiliki kelebihan penerimaan tunai sebesar 33 % setiap bulan.  Namun perlu dicermati bahwa  uang tunai yang dterima masyarakat belum dikurangi dengan pengeluaran pada saat melakukan kegiatan mencari uang tunai tersebut.. 

Sebagaimana halnya yang telah diuraikan pada  bagian  aktivitas dan alokasi tenaga kerja, pola pengambilan keputusan  rumah tangga selalu dilakukan bersama antara  bapak dan ibu.  Walaupun demikian khusus untuk urusan pelayanan rumah tangga, ibu lebih banyak berperan.  Sedangkan untuk urusan di luar  pelayanan rumah tangga seperti pengurusan pendidikan anak-anak dan usaha pencaharian, bapak lebih berperan dalam pengabilan keputusan.  Namun  bila dikaji secara mendalam dalam berbagai urusan kehidupan rumah tangga, bapak memegang peranan penting dalam setiap pengambilan keputusan dalam keluarga. 


KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

 Kesimpulan

 

  1. KKLD Abun seluas 169.158 ha,terdiri atas 41% Daratan dan 59% Lautan, sebagian besar (72%) topografi daratan berbukit dan bergunung
  2. Kepadatan penduduk tergolong jarang, jumlah laki-laki lebih banyak dari wanita dan tanggungan keluarga rendah
  3. Mata pencaharian utama adalah petani peladang dan peramu, sedangkan nelayan sebagai mata pencaharian sampingan
  4. Sumber pendapatan tunai rumah tangga andalan adalah dari komoditi hasil pertanian seperti kakao, kopra dan pisang.
  5. Pemanfaatan penerimaan tunai keluarga sebagian besar (60%) diperuntukan bagi pemenuhan kebutuhan pokok. Selebihnya untuk modal kegiatan, biaya sekolah dan biaya  pengobatan.

 

Rekomendasi  

  1. Pemangku kawasan dan Tim Kolaborasi bersama masyarakat segera melakukan pemetaan kawasan secara partisipatif untuk menetapkan kawasan inti konservasi dan kawasan pemanfaatan bagi masyarakat secara demokratis.
  2. Untuk meningkatkan produktivitas tanaman kakao, kelapa dan perikanan tangkap dalam rangka meningkatkan penerimaan tunai masyarakat, maka instansi teknis terkait perlu melalukan pembinaan dan pendampingan secara intensif
  3. Diperlukan pembinaan dan pendampingan pengelolaan keuangan bagi masyarakat agar  alokasi penerimaan tunai untuk pendidikan dan kesehatan dapat ditingkatkan.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

DKP Sorong, 2004.  Inventarisasi Potensi Calon Kawasan Konservasi Laut Daerah Kabupaten Sorong.  Dinas Kelautan dan Perikanan.  Pemerintah Kabupaten Sorong, Papua Barat.

 

P3FED UNIPA, 2000.  Kajian Akademik Pembentukan/Pemekaran Kabupaten Tmrau.  Laporan Utama.  Pusat Penelitian Pemberdayaan Fiskal dan Ekonomi Daerah Universitas Negeri Papua, Manokwari.

 

Setio, P.  Et al., 2001.  Kajian Keanekaragaman Hayati di Cagar Alam Pegunungan Tamrau Utara. Dalam Prodiding  Ekspose Hasil-hasil Penelitian Balai Penelitian Kehutanan Manokwari Tahun 2001. p 45 -65

 

Setio, P. Et al., 2003.  Potensi Keragaman Hayati Pada Kawasan Koridor C.A. Pegunungan Tamrau Utara dan S.M. Jamursbamedi. Dalam Prodiding  Ekspose Hasil-hasil Penelitian Balai Penelitian Kehutanan Manokwari Tahun 2003. p 28 -66