Dinas Kehutanan Papua Barat : Kegiatan Seminar Nasional Sistem Pengelolaan Hutan Lestari Dengan Tema "Sistem Pengelolaan Hutan Yang Tepat Menjamin Kelestarian Hutan" Di Provinsi Papua Barat Pada Tanggal 2 - 3 Desember 2013 di Hotel Valdos Manokwari

Potensi Investasi

Login





Designed by: @dishut Provinsi Papua Barat

HHBK
Kamis, 10 Januari 2013 11:25

TINJAUAN ASPEK  SOSIAL EKONOMI DAN BUDAYA MASYARAKAT DALAM PEMANFAATAN HASIL HUTAN BUKAN KAYU  DI  PAPUA

 

 Oleh :

 Max J. Tokede

Jonni Marwa

 

 

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Sumberdaya hutan menyimpan potensi kayu dan hasil hutan bukan kayu (HHBK) serta jasa lingkungan yang apabila dikelola secara baik akan menjadi modal dalam pembangunan. Selama ini orientasi negara-negara dunia ketiga termasuk Indonesia lebih memanfaatkan hasil hutan berupa kayu, sedangkan hasil hutan bukan kayu dan jasa lingkungan tidak mendapat prioritas bahkan cenderung diabaikan. Hal ini terlihat dari fakta pemanfaatan kawasan hutan di Indonesia dimana 46,5% kawasan hutan (55,93 jt Ha) tidak dikelola secara intensif, 30 juta hektar dikelola PEMDA, 17,6-24,4 juta hektar mengalami konflik karena tumpang tindih klaim, terdapat 19.410 desa /kampung di dalam kawasan hutan, serta izin sektor lain. Sisanya 8,7 juta hektar dikonversi oleh 806 Perusahaan, dan 1,6 juta hektar dibangun kebun (Kartodihardjo, 2010). Data tersebut memperlihatkan bahwa sebagian besar pemanfaatan kawasan hutan adalah untuk pengambilan hasil kayu dalam bentuk ijin pemanfataan hasil hutan kayu dan ijin-ijin sah lainnya.

Namun demikian dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi serta  kebijakan global perlindungan alam karena ancaman perubahan iklim, telah terjadi pergeseran paradigma dalam pemanfaatan sumberdaya hutan. Kayu tidak lagi menjadi primadona dari hutan karena eksploitasi kayu telah meninggalkan hutan-hutan bekas tebangan yang tidak lestari dan menjadi salah satu sumber degradasi dan deforestasi dalam kawasan hutan dan mengendepankan hasil hutan bukan kayu sebagai modal dalam pembangunan.

Paradigma baru sektor kehutanan memandang hutan sebagai sistem sumberdaya yang bersifat multi fungsi, multi guna dan memuat multi kepentingan serta pemanfaatannya diarahkan untuk mewujudkan sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Paradigma ini makin menyadarkan para pemangku kepentingan terhadap sumberdaya hutan bahwa produk hasil hutan bukan kayu (HHBK) merupakan salah satu sumber daya hutan yang memiliki keunggulan komparatif dan paling bersinggungan dengan masyarakat sekitar hutan. HHBK terbukti dapat memberikan dampak pada peningkatan penghasilan masyarakat sekitar hutan dan memberikan kontribusi yang berarti bagi penambahan devisa Negara (Sumadiwangsa dan Setyawan, 2001).

Papua  merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang memiliki kawasan hutan dan areal berhutan relatif masih utuh. Dengan luas hutan kurang lebih 40.803.132 hektar kontribusi yang diberikan mencapai 32,8% dari total luas hutan di Indonesia yang didalamya terkandung potensi HHBK.  Apabila potensi ini tidak digali maka akan menjadi sumberdaya yang diam (modal idle), terdegradasi bahkan dapat mengalami kepunahan karena tidak terdata dan didokumentasikan secara baik. Sejauhmana  HHBK potensial ini berperan terhadap ekonomi rumah tangga masyarakat? Bagaimana kemungkinan pengembangan HHBK potensial pada skala ekonomi rumah tangga  serta apa saja nilai-nilai sosial budaya  masyarakat ? merupakan pertanyaan yang akan dijawab dalam tulisan ini.

 

 

Tujuan

Makalah ini dibuat sebagai sebuah studi komparatif  hasil-hasil penelitian  tentang HHBK di beberapa wilayah di Papua, dengan tujuan : Mengetahui jenis HHBK dan  peranannya terhadap ekonomi rumah tangga masyarakat.

 

Metode Penelitian

Lokasi

Penelitian ini telah dilakukan pada beberapa wilayah di Papua antara lain Kabupaten Nabire,  Kabupaten Asmat, dan Kabupaten Kaimana.  

Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan teknik observasi lapang dan wawancara semi struktural terhadap responden kunci.

Variabel  dan data Penelitian

Variabel penelitian ini meliputi (1) Jenis dan Pemanfaatan HHBK, (2) Kondisi Sosial ekonomi dan  Budaya. Dengan data-data yang dikumpulkan meliputi : jenis HHBK, bentuk pemanfaatan, bagian yang dimanfaatakan, jenis produk yang dipasarkan, pola pemasaran, pendapatan rumah tangga, Status dan pola kepemilikan serta penguasaan HHBK, kearifan lokal,  pola pewarisan pengatahuan tradisional.

Analisis Data

Analisis data dilakukan secara deskriptif dan disajikan dalam bentuk tabel,  dan gambar.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

A.     Jenis dan Pemanfaatan HHBK

Jenis-jenis HHBK yang ditemui pada lokasi penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar  sesuai dengan HHBK golongan nabati berdasarkan Permenhut No. P35/MENHUT-II/2007.

Persentase terbesar  jenis HHBK yang dapat dimanfaatkan  berasal dari golongan obat dan tanaman hias (77%),  diikuti HHBK jenis minyak lemak, pati dan buah (9%), tanin dan palem serta minyak atsiri  masing-masing 4-5% .  

 

Gambar 1. Persentase Jumlah HHBK Golongan Nabati

Peranan teknologi modern sudah sangat maju termasuk kemajuan dibidang Obat-obatan modern, namun  obat tradisional masih tetap bertahan dan digunakan masyarakat secara luas untuk menjaga kesehatannya (Dewi, 2004). Demikian halnya dengan masyarakat Wate, Asmat dan Kambraw yang mendiami wilayah Papua masih tetap eksis dengan obat-obat tradisional. Hal ini terlihat dari jumlah jenis tanaman obat yang ditemukan pada lokasi studi sebanyak 44 jenis dari 28 famili. Wilayah yang memiliki jumlah jenis terbanyak adalah distrik Sawaerma Kabupaten Asmat (29 jenis), disusul Distrik Napan  (15 jenis) dan  Distrik Kambrauw (14 jenis) (Gambar 2). Selain faktor site spesifik dan pola transfer pengetahuan,  salah satu faktor yang diduga mempengaruhi perbedaan jumlah jenis yang dimanfaatkan adalah akses  untuk mendapatkan pengobatan ke puskesmas atau rumah. Sehingga keinginan untuk mengetahui ramuan obat dari tumbuhan semakin berkurang yang menyebabkan tidak banyak orang memiliki kearifan lokal tentang obat tradisonal. Selain itu, masih terdapat faktor ketertutupan  masyarakat terhadap orang luar dalam menggali pengetahuan jenis. Karena pengetahuan  yang dimiliki hanya boleh diturunkan kepada anggota keluarga terdekat, misalnya yang terjadi pada masyawarakat Sawaerma Kabupaten Asmat (Maryen, 2006).

Gambar 2. Jumlah Jenis Tumbuhan Penghasil Obat 

Berdasarkan jumlah jenis yang ditemukan di lapangan terlihat bahwa keragaman jenis  tumbuhan penghasil obat cukup tinggi.  Walaupun memiliki keragaman jenis tinggi masih terdapat kesamaan beberapa jenis yang dimanfaatkan pada ketiga wilayah penelitian. Jenis-jenis yang memiliki kesamaan adalah Alstonia scholaris, Carica papaya L., Psidium guajava, Cinamomum culilawan, dan Laportea sp. Meskipun memiliki kesamaan jenis, namun cara meramu untuk masing-masing jenis  berbeda-beda antara lokasi yang satu dengan yang lainnya. 

Pemanfaatan tumbuhan-tumbuhan ini dapat secara langsung maupun tidak langsung. Jenis tumbuhan yang digunakan secara langsung, yaitu bagian tumbuhan diambil langsung dimanfaatkan misalnya Giawas (Psidium guajava), Umetia (Baringtonia asiatica). Sedangkan tumbuhan yang dimanfaatkan secara tak langsung yaitu dengan cara direbus. Adapula yang dipanaskan diatas api lalu dioleskan dengan minyak kelapa kemudian di letakan pada bagian yang sakit. Penggunaan tumbuhan sebagai obat masih sangat sederhana,  yaitu digunakan dalam bentuk tunggal dan gabungan lebih daris atu jenis secara bersama-sama.

B.       Kondisi Sosial Ekonomi dan Budaya Masyarakat Pemanfaat HHBK

a.      Demografi (Kependudukan)

Persebaran penduduk berdasarkan suku atau etnis di lokasi penelitian  dapat dikategorikan dalam dua kategori yaitu etnis asli dan pendatang. Sebagian besar (90%) penduduk yang berada disekitar lokasi adalah penduduk asli dan sisanya (10%) merupakan penduduk yang masuk karena kegiatan berdagang, bekerja sebagai PNS, dan perkawinan. Kondisi ini memberikan gambaran bahwa proses asimilasi dan akulturasi budaya sangat kecil, sehingga turut mempengaruhi  proses adopsi inovasi  dan teknologi termasuk transfer pengetahuan dalam pemanfaatan  HHBK.

Penduduk pada lokasi penelitian sebagian besar (63,61%) merupakan usia produktif              (16-59 tahun). Berdasarkan jenis kelamin jumlah penduduk laki-laki lebih banyak dibandingkan dengan wanita. Hal ini mengindikasikan bahwa tenaga kerja laki-laki lebih berpotensi untuk dicurahkan pada jenis-jenis perkerjaan berat yang benar-benar memerlukan kerja. Apabila potensi ini dimanfaatkan dengan baik, maka produktifitas di wilayah ini  secara umum akan relatif tinggi. Kebutuhan tenaga kerjat telah tersedia secara memadai, walaupun masih memiliki pengetahuan dan skil yang  rendah.  Hal ini terlihat dari rata-rata jumlah usia produktif sebesar  157 jiwa per distrik yang relatif banyak. Produktifitas wilayah semakin besar, terutama pada bidang kehutanan, pertanian perkebunan, dan  perikanan.

b.      Sumber Mata Pencaharian dan Penerimaan Tunai Rumah Tangga

Secara agregat sumber mata pencaharian yang dominan di wilayah studi adalah di sektor pertanian. Hal ini menunjukkan sektor pertanian masih menjadi sektor andalan bagi rumah tangga. Aktivitas produksi yang dilaksanakan oleh penduduk, menunjukan bahwa lebih dari 90% kepala keluarga menggantung hidup pada kegiatan pertanian dan meramu. Hanya sekitar 1% yang bekerja sebagai pedagang dan 9% merupakan pegawai negeri. Sedangkan aktivitas nelayan, berburu dilakukan oleh penduduk sebagai pekerjaan sampingan. Pendapatan penduduk sangat tergantung dari komoditi yang diusahakan dan hasil meramu. Hal ini dikarenakan wilayah ini memiliki potensi yang melimpah baik sumberdaya laut dan hutan. Masyarakat wilayah ini menggantungkan hidupnya dibidang pertanian seperti pala, kakao dan kelapa, pisang, ubij kayu, ubi jalar sedangkan usaha menangkap ikan hanya sambilan dalam hal pemenuhan kebutuhan sehari-hari atau dijual pada saat ada pedagang pengumpul yang membeli.

Rata-rata penerimaan terbesar bersumber dari pendapatan lain-lain (44,17%), diikuti  penerimaan dari hasil kebun (18,3%), hasil berburu (14,09%) dan Sagu (13,76%) serta Buru tani 2,34%. Semakin beragam usaha yang dilakukan maka semakin besar pendapatan yang akan diterima.  Rata-rata pendapatan per bulan  Rp 1.138.333 (Tabel 1)

Tabel 1. Sumber Penerimaan Keluarga per Tahun

Anggota Keluarga

Penerimaan (tahun)

Hasil Kebun (Rp)

Hasil berburu (Rp)

Sagu (Rp)

Buru tani (Rp)

Lain-lain  (Rp)

 

Total

Ayah

2.500.000

1.255.500

-

-

3.488.000

7.243.500

Ibu

-

670.000

1.880.000

-

2.546.500

6.096.500

Anak

-

-

-

320.000

-

320.000

Jumlah

2.500.000

1.925.500

1.880.000

320.000

6.034.500

13.660.000

Persen (%)

18.30

14.09

13.76

2.34

44.17

100.00

 

Secara garis besar ada dua sumber penerimaan rumah tangga yaitu dari sektor pertanian dan nonpertanian. Struktur dan besarnya pendapatan dari sektor pertanian berasal dari usahatani, dan berburuh tani. Sedangkan dari nonpertanian berasal dari usaha nonpertanian, buruh nonpertanian dan pekerjaan lainnya di luar pertanian. Dari sisi pengeluaran rumah tangga 44,64% penduduk digunakan untuk memenuhi kebutuhan makanan pokok terutama beras. Dapat dilihat bahwa beras diurutan pertama karena beras merupakan bahan makanan pokok disamping sagu untuk memenuhi kebutuhan karbohidrat. Beras juga sering menjadi alat sosial karena digunakan juga untuk menyumbang bagi orang-orang yang memerlukan bantuan. Selain itu, 22,32% dikeluarkan untuk bahan minuman seperti gula, teh, kopi, susu dan lain-lain. Sedangkan kebutuhan-kebutuhan harian 16,07% dan sisanya untuk kebutuhan insidentil dan pelayanan masing-masing sekitar 8%. Secara umum dapat dilihat bahwa lebih banyak pendapatan yang dialokasikan untuk kebutuhan pangan, sedangkan kebutuhan-kebutuhan non pangan lebih sedikit. Hal ini merupakan ciri umum masyarakat yang mendiami wilayah kampung di Papua dimana hal-hal yang menjadi kebutuhan non pangan tidak mendapat prioritas. Tentunya hal ini terkait dengan kemampanan ekonomi masyarakat. Secara umum dapat dilihat bahwa lebih banyak penerimaan yang dialokasikan untuk kebutuhan pangan, sedangkan kebutuhan-kebutuhan non pangan lebih sedikit.

c. Kontribusi  Ekonomi HHBK Terhadap Penerimaan  Rumah Tangga

HHBK  memberikan kontribusi terhadap pendapatan Rumah tangga bagi masyarakat, walaupun jumlahnya sangat kecil. HHBK yang dimanfaatkan masyarakat dibagi menjadi 2 kategori  yaitu : (a) produktif, yakni yang dapat diperjualbelikan di pasar, dan (b) konsumtif, yakni yang dikonsumsi sendiri dan tidak dijual.

Ditemukan pula bahwa 78,79% HHBK yang dimanfaatkan oleh masyarakat digunakan untuk keperluan konsumtif, sisanya 21,21% yang digunakan untuk kegiatan produktif. Hal ini menunjukan bahwa sumber kegiatan produktif yang dapat menjadi salah satu pendapatan keluarga relatif lebih kecil  sumbangsihnya terhadap pendapatan rumah tangga. 

Tabel 3. Kontribusi  HHBK  Terhadap Penerimaan  Tunai Rumah Tangga

Sumber Pendapatan

Pendapatan ( Rp/bulan)

Kontribusi Terhadap Penerimaan Tunai (%)

Hasil Usaha Tani

235.000

32,27

HHBK

317.125

20,06

Lain-lain 

502.875

47,67

Jumlah

1.055.000

100,00

 

Kontribusi HHBK terhadap pendapatan tunai rumah tangga hanya mencapai 20,06% dibawah pendapatan yang bersumber dari hasil usaha tani. Rendahnya kontribusi HHBK terhadap penerimaan rumah tangga  ini disebabkan oleh  lemahnya kelembagaan pemasaran dan tata niaga HHBK, serta rendahnya penguasaan teknologi pengolahan dan nilai tambah yang akan meningkatkan harga jual.

Selain itu, yang tidak kala penting dalam memberikan sumbangsih penerimaan adalah  sagu.  Dengan produksi rata-rata 10-12 tumang baik ukuran sedang maupun besar  dan harga jual yang berkisar antara Rp. 150.000 – Rp. 200.000 per tumang, penerimaan keluarga akan semakin meningkat.  Hanya saja usaha penjualan sagu ini frekuensinya sangat rendah                  (1-3 kali dalam sebulan) tergantung permintaan dan  kebutuhan keluarga.  HHBK lain seperti masoi, kulilawan, gaharu, rotan dan tali kuning tidak banyak memberikan pengaruh terhadap penerimaan keluarga, karena aktivitas produksi untuk mencari jenis-jenis HHBK tersebut dilakukan secara insidentil sesuai kebutuhan atau kemampuan.

 

d.        Lembaga-Lembaga Pemasaran dan Pola Pemasaran

Lembaga pemasaran adalah badan usaha atau individu yang menyelenggarakan pemasaran, menyalurkan jasa dan komoditi dari produsen ke konsumen akhir, serta mempunyai hubungan dengan badan usaha atau individu lainnya. Lembaga pemasaran muncul karena adanya keinginan konsumen untuk memperoleh komoditi yang sesuai dengan waktu, tempat, dan bentuk.

Berdasarkan keterlibatan dalam proses pemasaran lembaga Pemasaran untuk setiap jenis HHBK berbeda. Pengumpul/petani, Pedagang Pengumpul, Pedagang Besar, Pengencer, dan Konsumen Akhir

 

 

 

 

Arus pemasaran HHBK adalah sebagai berikut :

Pola I

Produsen          Pedagang Pengumpul            Pedagang Besar          Pengencer

                                                                                               

       Konsumen Akhir 

Pola II

Produsen          Pedagang Pengumpul            Pedagang Besar          Konsumen

                                                            

Pola III

Produsen              Pengencer            Konsumen Akhir 

Pola  IV

Produsen              Konsumen Akhir 

 

Bila dilihat dari arus pemasaran yang ada ternyata bahwa pola IV adalah pola yang cukup efisien, karena memiliki aliran pemasaran yang pendek. Semakin pendek aliran pemasaran maka semakin efisien, karena margin keuntungannya semakin  besar.

 

 

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

1.      Persentase jenis HHBK yang dapat dimanfaatkan  lebih besar berasal dari golongan obat dan tanaman hias

2.      Walaupun memiliki keragaman jenis tinggi masih terdapat kesamaan beberapa jenis yang dimanfaatkan pada ketiga wilayah penelitian

3.      Secara agregat sumber mata pencaharian yang dominan di wilayah studi adalah di sektor pertanian

4.      78,79% HHBK yang dimanfaatkan oleh masyarakat digunakan untuk keperluan konsumtif, sisanya 21,21% yang digunakan untuk kegiatan produktif

5.      Kontribusi HHBK terhadap pendapatan tunai rumah tangga hanya mencapai 20,06% dibawah pendapatan yang bersumber dari hasil usaha tani

Saran

1.      Masih terdapat asymetris informasi harga pasar  antara  pembeli dan  masyarakat sehingga diperlukan kebijakan  pemerintah daerah

2.      Mendorong pertumbuhan tata niaga pemasaran yang lebih fair

3.      Mendorong rendahnya penguasaan teknologi pengolahan

 

 

DAFTAR  PUSTAKA

Erari, Y, 2006. Pemanfaatan Tumbuhan Obat Oleh Suku Wate di Distrik Napan Kabupaten  Nabire. Skripsi Sarjana Kehutanan.[Tidak diterbitkan]

Departemen Kehutanan, 2007. Peraturan Menteri Kehutanan No 35/  MENHUT/II/2007  tentang Hasil  Hutan Bukan Kayu. Dephut.

Departemen Kehutanan, 2007. Reposisi Kehutanan Indonesia.  Departemen Kehutanan.  Jakarta

Darwis. V dan A. R. Nurmanaf. 2001. Pengentasan Kemiskinan Upaya yang Telah Dilakukan dan Rencana Waktu Mendatang. FAE. Vol. 9 No. 1 Juli 2001. Puslitbang Sosek Pertanian. Badan Litbang Pertanian. Hal. 55 – 67.

Maryen G, 2006.  Pemanfaatan Tumbuhan obat oleh Suku Asmat di Distrik Sawaerma Kabupaten Asmat. Skripsi Sarjana Kehutanan [Tidak diterbitkan)

Litbang Kehutanan, 2009. Road Map Penelitian dan Pengembangan Kehutanan 2010-2025. Departemen Kehutanan, April Jakarta.

Oka.M.P dan Acmad A, 2005.  Kontribusi Hasil Hutan Bukan Kayu Terhadap Penghidupan Masyarakat Hutan : Studi Kasus di Dusun Pamli Kabupaten Luwu Utara. Fakultas Pertanian dan Kehutanan Universitas  Tamalanrea Makasar.

Prayitno TA, 2009.  Peningkatan Nilai Tambah Hasil Bukan Kayu melalui Pendekatan Teknologi. Workshop Hasil Hutan  Bukan Kayu

Sudarmalik, Y. R dan Purnomo, 2006. Peranan Beberapa Hasil Hutan Bukan Kayu  (HHBK) di Riau Sumatera Barat. Prosiding  Seminar Hasil. LITBANG Hasil Hutan. Hal 199-219.