Dinas Kehutanan Papua Barat : Kegiatan Seminar Nasional Sistem Pengelolaan Hutan Lestari Dengan Tema "Sistem Pengelolaan Hutan Yang Tepat Menjamin Kelestarian Hutan" Di Provinsi Papua Barat Pada Tanggal 2 - 3 Desember 2013 di Hotel Valdos Manokwari

Potensi Investasi

Login





Designed by: @dishut Provinsi Papua Barat

Proyek Kebar Baru
Kamis, 10 Januari 2013 11:26

 

SEBUAH JEMBATAN MENUJU PROYEK KEBAR BARU

 

Oleh

L.C. de Zeeuw Sr

Bekerjasama Dengan

 

Ir. J.A.  Bleijs

Inspektur Kehutanan

Juni 1995

 

Sebuah Jembatan Menuju Proyek Kebar Baru

(terjemahan )

 

 

 

 

Judul Asli  :   Een Brug Naar een Nieuw Kebar Project

                        L.C. de Zeeuw Sr.

                        Met medewerking van

                        Ir J.A. Bleijs

                        v.m.  Inspecteur Boswezen

                        Juni 1995

Terjemahan               :   E. Kameubun

Editor                        :   Max J. Tokede

Diterbitkan oleh     :     Jurusan Manajemen Hutan

Fakultas Kehutana Universitas Negeri Papua @ 2006


Pengantar

 

Suatu kesempatan yang unik untuk menghidupkan kembali proyek penanaman hutan yang terbengkalai dalam rangka memajukan penduduk  lokal Papua.  Peluang ini dimungkinkan bagi Proyek Kebar di pedalaman kepala burung Irian Jaya (sekarang Papua).  Proyek ambisius ini telah dirancang 30 tahun yang lalu dan amat menjanjikan. Namun karena situasi politik pada tahun 60-an, maka proyek ini tidak dapat dilanjutkan.

Kemungkinan melanjutkan proyek ini dapat dibaca dari laporan  Ir J.A. Bleijs yang pada waktu itu menjabat sebagai Kepala Pemangkuan Hutan di Nederland Neuw Guinea (NNG) yang sekarang Papua.  Pengalaman  panjang yang diperoleh oleh Ir Bleijs selaku konsultan pembangunan hutan pada P.U.M untuk pembangunan Proyek-Proyek Kehutanan merekomendasikan bahwa secara ekonomis dan sosial  layak untuk menghidupkan kembali proyek di Kebar.

Secara resmi, proyek kebar  hingga saat ini,   tidak ditunjang oleh ketersediaan anggaran yang memadai.  Selaku sarjana kehutanan   yang bertugas sebagai pelaksana proyek pada saat itu, ia bersama istrinya Lies serta teman sekerja saudara Nico Manusiwa; tahun 1995 melakukan kunjungan  ke  daerah Kebar.  Kunjungan ini bertujuan untuk menghidupkan kembali Proyek Kebar tersebut.

Secara filosofis, proyek ini tidak merugikan bila ditangani secara terpadu dengan ditunjang oleh sumber dana  bank Dunia yang menangani proyek-proyek di Indonesia dan Papua.   Melindungi secara alamiah  sumberdaya hutan dan perikanan dapat dilakukan bersamaan dengan pembangunan masyarakat lokal.  Dalam pernyataan misi (Mission Statement) dari WWF   ditemukan keterkaitan antara proyek Kebar ini dengan penentuan  yang tepat akan pemanfaatan sumberdaya alam.  Juga dalam jangka panjang dapat mengawetkan dan melindungi kelestarian  hutan alam.

Pembagian wilayah Papua dalam konsesi-konsesi hutan sangat berbahaya bagi pengrusakan alam dan kehidupan masyarakat setempat.  Proyek Kebar dapat dimulai dengan pertimbangan yang matang dengan lebih menitik beratkan pada kelestarian lingkungan daripada hanya pertimbangan ekonomi semata.  Proyek ini adalah proyek strategis yang melibatkan banyak orang dan mencakup areal yang luas.  WWF telah mengidentifikasi dan  merangsang kerjasama dengan semua pihak yang peduli  terhadap lingkungan dan kehidupan masyarakat setempat.  Tawaran ini tentu sangat menjanjikan bagi  masyarakat setempat.

Secara teknis tampak bahwa Proyek Kebar ini dapat dijadikan bagian dari Jaminan Kerjasama  dengan Badan Organisasi Dunia seperti WWF, NOVIB, OHRA dan REAAL.  Kombinasi dari suatu penjaminan bagi pengelola dan guna menopang pembangunan yang  berkelanjutan.  Bentuk penjaminan ini di daerah lain tampak berhasil dan  dapat menjadi acuan.  Dengan Proyek Kebar setidaknya dapat direalisasikan bentuk kerjasama seperti itu.

Dengan pengelolaan proyek demikian, proyek kebar  yang telah terbengkalai selama 30 tahun lalu dapat dilanjutkan,  sehingga  dapat memuaskan semua pihak.

 

                                                                           Leo de Zeeuw Senior

                        Pendiri

Pengawetan Peradaban

                        Masyarakat di Irian Jaya                        

 

 

LAPORAN PROYEK KEBAR

TAHUN 1957 – 1962

0leh

Ir J.A. Bleijs

(Mantan Kepala Pamangkuan Hutan NNG)

 

 

I.  Pendahuluan.

Pada tahun 1957 saat kami masih menjabat sebagai Kepala Pemetaan Hutan pada Pemangkuan Hutan dari pemerintah NNG (sekarang Papua).  Telah dilakukan inventarisasi-inventarisasi dalam rangka pemetaan hutan di daerah Oransbari, lembah Prafi dan daerah Sidey.  Banyak kegiatan pemotretan udara yang dibuat untuk memetakan daerah-daerah baru potensial yang kemudian akan dimasukkan dalam program inventarisasi.  Pemotretan udara dilakukan di sekitar daerah Biak untuk pemetaan habitat penyebaran tumbuhan seperti Agathis labillardieri.

 

II. Sejarah Pembangunan Proyek Kebar

Bekerjasama dengan Ir. J.F.H. Zieck, kami saat itu memperluas pemetaan ke daerah Kepala Burung.  Perhatian khusus ditujukan pada tegakan Araucaria di Kebar.  Di sebelah Selatan lembah Kebar, kami temukan kawasan yang terhampar luas dengan hutan Araucaria yang tumbuh di kaki pegunungan.  Kami beranggapan bahwa hutan –hutan ini mempunyai nilai potensi yang tinggi.  Selama belum ada jalan raya ke Kebar, maka secara ekonomis tidak menarik.  Juga tidak bagi masyarakat yang bermukim dan tersebar di kaki pegunungan  tersebut.  Maka saat itu rencanapun lahir untuk memulai membangun suatu perusahaan kayu Araucaria di Kebar.  Bagi kami jelas bahwa hutan-hutan Araucaria belum dapat di olah sebelum ada jalan raya menjangkau daerah Kebar. 

Pembangunan jalan ke kebar hanya mungkin apabila ada produksi yang dihasilkan di lembah Kebar.  Langkah pertama yang terpikir adalah memproduksi produk tanaman pertanian.  Berkaitan dengan jenis tanah dan daerah yang mirip sabana (padang rumput), salah satu pertanaman yang mungkin diusahakan adalah penanaman hutan.  Untuk Proyek ini penduduk harus dilibatkan sehingga tidak dibutuhkan alat-alat berat perusahaan dilibatkan dalam proyek (Proyek padat karya).

Menteri Perekonomian (Hr. Kozenboom) menetapkan bahwa Araucaria merupakan salah satu jenis pohon berharga, sehingga proyek Kebar secara ekonomis layak dikerjakan.  Dengan demikian kehadiran proyek ini dapat memajukan  perekonomian penduduk lokal.

 

III.  Kegiatan Proyek Kebar Pertama

Dukungan pertama datang dari Balai Planologi Kehutanan yang menjamin bahwa pada tahun-tahun mendatang proyek kebar akan dianggarkan.  Ahli Botani dari Pemangkuan Hutan saat itu (Drs C. Kalkman) membuat deskripsi singkat Araucaria cunninghamii Sw. (Hope Pine) sebagai berikut:

 

Araucaria

Araucaria cuninghamii Sw.

Fam.  Araucariaceae

 

Nama                     :  Hope Pine (Australia, PNG)

Penyebaran              :  Tumbuh di banyak tempat di pegunungan

Elevasi                    :   > 600 m dpl.

Habitus                   :  Tinggi, lurus, bundar, kadang mencapai tinggi bebas cabang 40 m.

Kayu                    :

Warna                 : Kekuningan, bagian dalam kuning sampai coklat terang, serat halus

Ciri                      : serat halus, ringan sampai ringan sekali, tidak kuat,   kurang awet, kemungkinan serangan jamur biru (blue stain) sedang, mudah dikerjakan, daya kerut kurang, mudah digergaji dan mudah pengerjaan, mudah disekap, mudah dicat, daya lentur kurang.

Penggunaan          :  didaerah beriklim sedang cocok untuk konstruksi di

                                bawah atap.

BJ (Kering Angin)    :  0.4 -0.6

Kelas Kuat             :  V

Kelas Awet             :  IV

Gejala                : Menurut Boas, sering dijumpai ciri kayu tekan, batang pohon dengan penyimpngan ciri demikian, proses pengeringan buruk.

 

IV.  Awal Pengorganisasian  Kegiatan

Tahun 1959, kami menduga bahwa di daerah Kebar ada musim panen raya (Mastyaar) dalam produksi biji Araucaria, maka dapat dipungut sebanyak mungkin biji (sepengetahuan kami panen raya biji Araucaria 4 tahun sekali).  Inilah awal dimulainya kegiatan Proyek Kebar dengan memanfaatkan Araucaria yang tumbuh secara alam.

Bersama dengan Ir H.L. Bernelot Moens, kami merencanakan perjalanan ke PNG (dulu ANG) pada tahun 1959 untuk  melakukan  studi   masalah silvikultur pengusahaan hutan Araucari sebagai  persiapan pembangunan Proyek Kebar selanjutnya.  Dana telah tersedia untuk memulai proyek ini.

Lapangan terbang dibangun (untuk mengangkut bahan-bahan kebutuhan proyek).  Sebuah rumah di bangun dekat lapangan terbang untuk tempat tinggal Sarjana Kehutanan yang akan memimpin perusahaan hutan tersebut (Bpk L. de Zeeuw). Juga dibangun  perumahan untuk pengawas dan mandor lapangan.  Dengan bantuan masyarakat setempat dibangun pesemaian pertama. 

Sebuah Firma yang mengusahakan bahan metal di Holandia (kini Jayapura) merancang sebuah mesin untuk memproduksi koker-koker dari metal yang mampu bertahan  minimal 10 tahun.  Deksripsi koker ini tertuang dalam Laporan dari Ir Bernelot M. sebagai berikut :

“Saat mengkoker, akar-akar dari anakan tanaman dimasukan dalam koker  disertai dengan tanah lembab (koker dari metal).  Koker ini berukuran tinggi 20 cm, diameter 5 cm, terdapat lempengan logam tebal 0,5 mm, bundar memanjang dengan sisi lengkung agar mudah di jepit bila diisi tanah dan anakan tanaman.  Dengan menekan agar  tanah dengan akar tanaman jadi kompak dalam koker.  Kemudian menambah tanah dari atas dan bawah dari koker agar tanahnya padat.”

Tahun 1961 pesemaian Araucaria disiapkan untuk memproduksi semai minimal untuk kebutuhan 300 hektar penanaman pertahun.  Tahun-tahun pertama adalah kegiatan pengumpulan biji Araucaria.

Penyimpanan dan pengawetan benih Araucaria   oleh  Benelot Moens – Bleijs, dilaporkan sebagai berikut :

Adanya fluktuasi pembuahan/produksi biji Araucaria, sekitar 4 tahun sekali berbuah lebat, maka di PNG telah diteliti cara penyimpanan benih dengan penurunan daya kecambah benih rendah.  Cara ini ditemukan dengan mendinginkan benih dalam penyimpanan.  Benih/biji yang tidak langsung disemai, disimpan dalam ruang pendingin untuk tahun-tahun buah/panenan biji kurang.  Wadah penyimpanan berupa kaleng berudara lembab dan tertutup rapat.  Di Bulolo, digunakan container.kaleng metal (volume 12 liter) dengan penyekat penutup berkaret dan penutup memakai klem/penyepit yang kuat.  Cara penyimpanan benih ke dua jenis Araucaria agak berbeda.

1.   Biji untuk Hope Pine yang sudah kering di isi dalam container dan suhu penyimpanan 10oF atau  - 12oC.  Jadi benih-benih ini dibekukan.  Dengan cara ini biji dapat disimpan baik sampai 5 tahun.

2.   Biji jenis Klinkii Pine dalam keadaan lembab di simpan dalam container yang lembab dan disimpan pada suku 38oF atau 4 – 50C.  Jadi benih didinginkan.  Untuk penutup container rapat dan menjaga tetap kering untuk biji hope pine lebih aman.

Penerbagan ke Kebar dilakukan secara regular dengan “Kroondnif”.  Yang mengatur penerbangan adalah Pengawas N. Manusiwa dan Bapak L. de Zeeuw selaku pemimpin Lapangan.  Usaha pesemaian Araucaria mulai berjalan, walaupun belum mampu memenuhi kebutuhan penanaman 300 ha.  Namun penanaman pertama mulai berjalan di  Kebar tahun 1961/1962.    Pembangunan Proyek Kebar tahap pertama mulai berjalan.

 

V.  Proyek Kebar Masa Depan

Untuk proyek ke depan,  maka  tegakan hutan Araucaria yang berada di daerah pegunungan di sebelah Selatan  lembah Kebar tetap dijaga.  Proyek kehutanan demikian sungguh bermanfaat bagi penduduk kebar dan layak dikerjakan.  Untuk mempertahakan hutan alam Araucaria tetap tumbuh secara alamiah, maka proyek seperti ini penting sekali untuk dilakukan.

Hasil pengenalan dan pengalaman kunjungan tahun 1995, dengan perkembangan kelompok-kelompok penduduk setempat, maka penanaman monokultur demikian sudah tidak tepat lagi.  Suatu proyek terpadu dengan menanam banyak jenis pohon lebih dianjurkan.  Termasuk juga Proyek di lembah Prafi dan Lembah Wandamen.   Kembudian penelitian terhadap areal-areal untuk regenerasi Hutan Hujan Tropis digandi dengan areal-areal Agroforestry dan Kebun Penduduk.  Dalam laporan kami di “ Rajabhat Institute Kamphoeng Phet” (Thailand), kami menulis tentang hal di atas:

“Harus diingat dengan baik bahwa alam  lebih kuat dari peradaban dan  akan menopang peradaban tanpa suatu halangan.  Maka sekarang untuk mempertahankan ekosistem alam  adalah manusia sendiri melalui pemeliharaan lingkungan alamnya.”

 

Hutan Hujan Tropis.  Fokus perdebatan di seluruh dunia saat ini adalah Hutan Hujan Tropis dalam kaitannya dengan pertahanan lingkungan hidup.  Beberapa konservationist alam mengkleim bahwa paru-paru dunia ada di Hutan Hujan Tropis.  Hutan dan lebih khusus Hutan Hujan Tropis adalah penting sekali.  Walaupun demikian, Hutan Hujan Tropis bukanlah paru-paru dunia.  Hutan menghasilkan 02, yang hanya melayani hutan tropis saja.  Apa yang dihasilkan oleh hutan hujan tropis akan kebali ke situ lagi.  Kebalikan dari produksi 02, pada malam hari hutan kembali menggunkan 02.  Dengan lain perkataan bahwa Hutan bukanlah kumpulan pohon-pohon penghasil sejumlah oksigen, tetapi hutan dimanapun di dunia adalah suatu komunitas, suatu kesatuan dan hidup tidak sendiri-sendiri.  Paru-paru dunia terdapat dilautan.  Plankton menghasilkan 02 jauh lebih banyak di banding dengan  yang dihasilkan hutan.  Plankton adalah jenis organisme berkelompok di lautan dan di air tawar yang hidup di dalam dan  dekat permukaan air.  Perpindahan mereka sebagian besar bergantung pada pasang surut, arus dan angin.  Sebab mereka terlalu kecil atau lemah untuk berenang melawan arus.  Komponen plakton terdiri dari bacteria dan algae mikro dan tungau, semuanya disebut Phytoplankton.  Kelompok Algae  penting dalam phytoplankton  meliputi diatom, algae emas, algae hijau, algae biru kehijauan.  Kelompok plankton lainnya adalah Zooplankton seperti protozoa, crustaceae kecil, ikan jelly, cacing dan siput termasuk telur dan larva dari banyak spesies binatang yang hidup di laut dan air tawar.  Kelompok protozoa penting dalam zooplankton adalah Dinoflagelata dan Foraminifera.  Diperkirakan 90% dari seluruh fotosintesa dan respirasi  bebas berlangsung di lautan.  Phytoplankton laut adalah rantai pertama dalam pertukaran makanan di laut.  Zooplankton yang mensu[plai makanan bagi phytoplankton dikonsumsi banyak oleh binatang yang lebih besar seperti ikan bahkan binatang  yang lebih besar seperti ikan paus biru.  Kandungan protein yang tinggi dari plankton merangsang penelitian sebagai sumber makanan bagi manusia.

 

 Untuk mensinergikan penduduk kebar dalam proyek ini adalah perlu untuk menerapkan system Taungya.  Dalam laporan  Malbog kami (Philipina), kami menulis singkat topic tentang system ini.

“System Taungya”. System Taungya mulai gencar digunakan di Afrika dan dibagian dunia lain di mana pengrusakan hutan dapat dihentikan.  Sebuah areal sempit dibuka, tanaman bahan makanan di tanam untuk 2-3 tahun dengan tanaman sela berupa anakan pohon atau tanaman buah-buahan atau kayu bakar tergantung pada keadaan lapangan atau penggunaan lahan.  Setelah tiga tahun petani, membuka areal kecil berikutnya seperti sebelumnya dan meninggalkan tanaman pohon pada areal  terdahulu.

 

Berdasarkan peneliti dan ilmuwan bahwa jelas di Afrika, penebangan hutan  untuk lading berpindah bukanlah penyebab utama penyusutan luas hutan, disbanding dengan kombinasi system Agroforestry, tetapi kuncinya adalah menejemen pertanian.  Desakan pertambahan penduduk di Negara-negara dunia ke tiga dan kombinasi dengan penebangan hutan, maka tampak seolah-olah lading berpindah adalah satu-satunya penyebab penyusutan luas hutan.   Kombinasi ini sebenarnya yang menyebabkan secara nyata penyusutan luas dan penggundulan lahan hutan.

Maka bagi kami bahwa proyek perlindungan alam dan pengembangan penduduk, minimal mempertibangkan  factor-faktor berikut :

  1. Regenerasi hutan tropis diberlakukan bagi daerah yang dibuka.  Melihat penduduk yang lebih jarang di pedalaman, maka system ini dapat diterapkan di sana.
  2. Kebanyakan lokasi Agroforestry di daerah kaki gunung
  3. Sistem Taungya :  di daerah hutan sekunder dan cocok untuk regerasi, maka system taungya ini akan sangat bermanfaat untuk melibatkan penduduk dalam proyek  tersebut
  4. Langkah awal adalah usaha pesemaian dan hasil-hasil rakyat dikembangkan (Ubijalar, siri dan lain-lain).  Untuk daerah beriklim sedang, kami mempunyai ekspert khusus pesemaian, juga untuk jenis-jernis pohon tropis.  Pengenalan kami terhadap  banyak jenis masih kurang.  Pada sebuah seminar mengenai penelitian penanaman hutan di Afrika Selatan (1988), menunjukkan bahwa belum ditemukan metode pesemaian yang sesuai untuk  jenis Pterocarpus angolensis, sedangkan untuk Afrika Selatan jenis ini digunakan untuk pembuatan meja, kursi dan sebangsanya dan ini tentu punya prospek ekonomis.
  5. Penelitian metode pesemaian dari berbagai jenis pohon adalah penting, terutama untuk membangun kembali hutan Hujan Tropis.
  6. Dengan masih ada hutan alam Araucaria, perlu usaha terpadu untuk memulainya dengan membuat pesemaian tanaman Araucaria seperti proyek proyek yang pernah  di Kebar. Hanya perlu ditambah dengan jenis kayu lokal lainnya seperti Agathis labillardieri dan juga kayu komersil lainnya terutama jenis endemik Papua.